HUKUM MAKAN ATAU MINUM TANPA SENGAJA PADA SAAT BERPUASA

Pada dasarnya jika seseorang lupa atau tanpa sengaja makan atau minum pada saat sedang berpuasa tidaklah membatalkan puasanya sebagaimana hadis berikut ini :
Dari Abu Hurairah r.a berkata : Rasulullah bersabda " Barang siapa yang lupa ketika berpuasa, lalu makan atau minum maka hendaknya puasanya itu ia teruskan sampai selesai. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum." Dan menurut lafalz lain " Barang siapa berbuka puasa karena lupa maka ia tidak wajib mengkadha' maupun kafarat." ( HR. Jamaah selain An Nasa'i.)

HUKUM BERCIUMAN (SUAMI-ISTRI) PADA SAAT BERPUASA

Dari Ummu Salamah r.a bahwa Nabi s.a.w pernah mencium (nya) dalam keadaan berpuasa (HR. Muttafaq 'Alaih)
Dan dari Aisyah r.a : Ia berkata Rasulullah s.a.w pernah mencium (aku) dan mencumbu (mubasyarah)dalam keadaan berpuasa. Hanya Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikanhajatnya (HR. Jamaah selain An Nasa'i)

Dari kedua hadist di atas menerangkan bahwa berciuman boleh dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa dan puasa tidaklah batal karenanya.

JENIS JENIS PUASA

berdasarkan sifatnya puasa dapat dibedakan menjadi 4 jenis yaitu :
1. Puasa Wajib
Puasa wajib adalah puasa yang harus di jalankan oleh setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan kecuali bagi perempuan dalam keadaan normal. Yang termasuk puasa wajib adalah puasa pada bulan Ramadhan, puasa kafarat dan puasa nadzar.

PANDANGAN 4 MADHAB TENTANG KEWAJIBAN BERPUASA BAGI WANITA HAMIL ATAU MENYUSUI

Menurut madzhab Maliki :
Wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui bila khawatir anaknya jatuh sakit akibat berpuasa maka diperbolehkan baginya untuk tidak berpuasa, tetapi wajib mengqadha' nya. Bagi wanita hamil tidak diwajibkan membayar fidyah (tebusan ) tetapi bagi wanita menyusui wajib membayarnya.

Menurut madzhab Hanafi :

Problematika Puasa Bagi Perempuan

Puasa berasal dari kata As Shaum yang arti bahasanya adalah menahan, sedangkan berdasarkan syara'  Shaum adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Hukum Ziarah Kubur Bagi Kaum Perempuan

Pada mulanya ziarah kubur dilarang bagi wanita sebagaimana hadist riwayat Imam Ahmad dan At Turmudzi :
Dari Abu hurairah r.a bahwa Rasulullah s.a.w mengutuk para wanita yang berziarah kubur.

Akan tetapi sesudah itu Rasulullah membolaehkan wanita berziarah kubur sebagaimana hadist riwayat Al Hakim dan Ibnu Hibban dari 'Aisyah :

Hukum Takzia atau Melayat Bagi Perempuan

Wanita diperbolehkan berkunjung kepada keluarga perempuan dari orang yang meninggal untuk ikut berbela sungkawa dengan catatan jangan terlalu lama, karena kalau terlalu lama dipandang makruh oleh Fuqaha'. Begitu pula tidak dibenarkan bagi wanita berpakaian serba hitam atas meninggalnya seseorang atau berkabung lebih dari tiga hari kecuali atas meninggalnya suami.

Seperti halnya laki-laki wanita juga boleh melakukan shalat jenazah. An Nawawi berkata " Seyogyanya wanitapun disunahkan melakukan shalat jenazah secara berjamaah seperti pada shalat lainnya". Semua itu boleh dilakukan sesuai dengan syarat yaitu mereka harus menutup aurat, tidak memamerkan perhiasan tidak bersikap menggoda laki-laki dan tanpa minyak wangi.